Di
dalam laboratorium, pengujian konsistensi ini biasanya diukur dengan suatu alat
tertentu yang sering disebut dengan flow table, dimana mortar itu harus
memiliki derajat kecairan (flow) tertentu. Mortar yang sifat lecaknya baik
memiliki derajat kecairan (flow) antara 110 - 120%. Konsistensi mortal
ditunjukkan oleh terjadinya aliran (flow) setelah diberi ketukan.
Kebutuhan
air untuk menghasilkan mortal yang mudah untuk dikerjakan adalah penting
sebelum mortal digunakan. Mortal yang terlalu banyak air akan encer, sehingga
mortalnya sulit untuk dikerjakan, baik pada pasangan mortal pada batu bata
maupum pekerjaan plesteran. Hal ini disebabkan karena mortalnya akan turun dan
tidak dapat menempel sempurna pada dinding batu bata. Begitu juga bila
digunakan untuk aduk pasangan, mortal yang terlalu encer sulit menahan batu
batanya. Untuk itulah sebelum mortal tadi digunakan, perlu diuji terlebih
dahulu kebutuhan airnya, sehingga pada waktu pemakaiannya tidak kelebihan air
ataupun kekurangan air ( homogen ). Dari hasil pengujian ini nantinya kita dapat
mengetahui secara visual keenceran adukan yang merupakan gambaran dan
pertimbangan untuk menghasilkan mortal yang baik.